PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan dan teknologi (Iptek) yang didukung oleh
teknologi yang berbasis komputer dan komunikasi berdampak pada terjadinya
ledakan informasi (information explosion). Teknologi informasi (TI) telah
dimanfaatkan untuk mencipta, memproses, mengolah, menyimpan dan menyebarluaskan
informasi. Berbagai sumber informasi muncul dalam aneka tempat atau wadah
dengan bentuk materi tercetak (printed), terekam (recorded) dan terpasang
(online). Disamping dalam bentuk hardcopy seperti buku, majalah, surat kabar
yang bersifat konvensional, kini banyak pula yang berbentuk elektronik seperti
e-book, e-jurnal, e-newspapers dan bentuk elektronik lainnya, yang merupakan
contoh dari perkembangan Iptek yang didukung oleh TI.
Penguasaan
Iptek terkait erat dengan penguasaan TI. Kebutuhan terhadap informasi yang
beragam, cepat dan tepat menuntut penggunaan TI. Pengelolaan informasi secara
manual akan mengakibatkan ketertinggalan, karena orang berlari kita berjalan.
Pada hakikatnya TI adalah pemanfaatan teknologi dalam penciptaaan, penyimpanan,
pengelolann dan pelayanan informasi. Dalam hal ini terdapat 3 pakar atau
keahlian yang sangat berperan, yaitu 1) Pakar/keahlian dalam ilmu komputer yang
selalu mmengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer serta
memungkinkan pekerjaan manusia dilakukan dengan menggunakan mesin; 2)
Pakar/keahlian dalam ilmu komunikasi yang selalu mengembangkan sarana
komunikasi dan memungkinkan terhubungnya antar pencipta, pengeloa dan pengguna
informasi; 3) Pakar/keahlian dalam ilmu perpustakaan dan informasi (pustakawan)
yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
melakukan kegiatan pengumpuan, pengolahan dan pelayanan informasi.
Dalam
paradigma baru, perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar segar
menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, sehingga apapun
yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif
dan rekreatif bagi pengunjungnya. Koleksi yang dimiliki perpustakaan merupakan
kekayaan (asset) yang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan oleh pengguna secara
optimal. Sumber informasi (resources) yang dulunya berbentuk satu media (one
medium), kini berbentuk maya dan multimedia. Layanan (services) perpustakaan
yang dulu berperan sebagai gudang berubah sebagai pasar (supermarket).
Pustakawan yang sebelumnya hanya berperan pasif (menunggu pengguna), kini
justru harus bisa mempromosikan dan memberdayakan penggunanya2.
Penggunaan
TI di perpustakaan sering menjadi tolok ukur kemajuan dan modernisasi dari
sebuah perpustakaan. Hal ini tentu tidak bisa dipungkiri mengingat tuntutan
masyarakat yang memang sudah “tahu dan pintar” dengan segala macam bentuk TI.
Gejala dan permasalahan serta fenomena inilah yang membawa dampak kepada apa
yang disebut dengan Layanan Perpustakaan Berbasis TI. Tentunya ini dengan
harapan bahwa apa yang menjadi pertanyaan banyak orang mengenai sentuhan TI di
perpustakaan sedikit terjawab melalui layanan berbasis TI ini.
Perkembangan
perpustakaan dilihat dari kepentingan pengguna dirasakan belum menggembirakan.
Masih banyak “tuntutan” pengguna yang belum dapat dipenuhi oleh perpustakaan,
termasuk tersedianya akses layanan berbasis TI ini. Pengembangan TI di sebuah
perpustakaan sebenarnya merupakan wujud dari berbagai kepentingan. Kepentingan
ini yang mendorong perpustakaan untuk melakukan modernisasi pelayanan dan
menerapkan TI dalam aktifitas kesehariannya. Tuntutan kepentingan-kepentingan
yang sedemikian besar ini seakan menjadikan “cambuk” bagi perpustakaan untuk
berbenah dan selalu berpikir untuk dapat memberikan yang terbaik melalui
fasilitas TI ini.
TEORI
Implementasi
TI dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang baik
untuk keperluan automasi perpustakaan maupun penyediaan media / bahan pustaka
berbasis TI ini. Berdasarkan pengamatan, sebenarnya kepentingan ini secara
garis besar dapat dibedakan menjadi dua yakni kepentingan institusi dan
kepentingan pengguna perpustakaan. Hanya terkadang apa yang menjadi kepentingan
institusi sepertinya “belum berpihak” banyak kepada kepentingan pengguna. Belum
lagi masalah prioritas, perpustakaan masih merupakan prioritas kesekian bagi
lembaga induknya dalam hal pendanaan dan pengembangan.
Perubahan
paradigma pekerja informasi menuntut perubahan dalam melayani pengguna.
Pengguna perpustakaan harus dikenali dengan baik, perlakuan kepada mereka harus
bervariasi. Pengguna (users) adalah istiah umum yang digunakan, tetapi ada
diantara mereka yang dikelompokkan sebagai anggota (members), pembaca
(readers), pemerhati (patrons), pelanggan (customers), ataupun sebagai klien
(clients). Dengan demikian layanan kepada masing-masing peran pengguna, harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan kriteria mereka.
Pustakawan
harus mampu menghadapi perkembangan informasi yang terus berpacu dengan
perkembangan teknologi di era global ini. Supaya berhasil mengatasinya,
pustakawan sebagai tenaga profesional harus memiliki beberapa ketrampilan,
antara lain :
*
Adaptability
Pustakawan
hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan dan sebaiknya adaptif memanfaatkan
teknologi informasi. Pustakawan dalam memberikan nformasi tidak lagi hanya
bersumber pada buku teks dan jurnal yang ada di rak, tetapi juga memanfaatkan
internet untuk mendapatkan informasi yang up todate bagi penggunanya4
*
People skills (soft skills)
Pustakawan
adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna dengan
kemampuan berkomunikasi yang bagus baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena
itu pustakawan dengan kriteria-kriteria berikut sangat diperlukan sebagai
people skills yang kuat, yaitu :
a.
Pemecahan masalah (kreatifitas, pencair konflik)
b.
Etika (diplomasi, jujur, profesional)
c.
Terbuka (fleksibel, terbuka untuk wawasan bisnis, berpikir positif)
d.
Perayu (ketrampilan komunikasi dan mendengarkan atentif)
e.
Kepemimpinan (bertanggung jawab dan kemampuan memotivasi)
f.
Berminat belajar (haus akan pengetahuan dan perkembangan).
People
skills ini dapat dikembangkan dengan membaca, mendengarkan kaset-kaset positif,
berkenalan dengan orang positif, bergabung dengan organisasi positif lain dan
kemudian diaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-hari5.
*
Positive Thinking
Pustakawan
diharapkan menjadi orang di atas rata-rata. Sebagai pemenang yang selalu
berpikiran positif, sehingga jika dihadapkan pada pekerjaan besar seharusnya
berkata “yes” kami bisa. Tidak ada pesimisme dalam kamus hidup pustakawan.
*
Personal Added Value
Pustakawan
tidak hanya lihai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan
pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai
nilai tambah sebagai navigator unggul dalam mencari informasi khususnya di
dunia internet.
*
Berwawasan Enterpreneurship
Pustakawan
harus berpikir kewirausahaan (entrepreneurship) agar dalam perjalanan
sejarahnya nanti dapat bertahan. Paradigma lama bahwa perpustakaan hanya
pemberi jasa yang notabene tidak ada uang harus segera ditinggalkan. Pustakawan
yang berwawasan bisnis, terutama di era otonomi, perpustakaan secara perlahan
harus menjadi income generation unit.
*
Team Work - Sinergi
Di
dalam era global yang ditandai dengan maraknya internet dan membludaknya
informasi, pustakawan seharusnya tidak lagi bekerja sendiri. Mereka harus
membentuk team kerja dengan tenaga professional lainnya untuk bekerjasama
mengelola informasi.
Dengan
enam ketrampilan di atas diharapkan pustakawan akan terus berkembang
menjalankan tugasnya seiring dengan perubahan jaman yang begitu cepat.
Profesionalisme pustakawan akan lebih mendarah daging dan menjiwai setiap
aktivitasnya.
PEMBAHASAN
Teknologi
dalam hal ini TI bukan merupakan hal yang murah. Perpustakaan yang ingin
mengimplementasikan TI dalam layanan dan aktifitasnya perlu merencanakannya
secara matang. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada kesia-siaan dalam
perencanaan dan pengembangan yang berakibat pula pada pemborosan waktu, tenaga,
pikiran dan keuangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan
dalam rangka penerapan TI pada perpustakaan, yakni:
1.Dukungan
Top Manajemen / Lembaga Induk
2.Kesinambungan
/ Kontinuitas
3.Perawatan
dan Pemeliharaan
4.Sumber
Daya Manusia
5.Infrastruktur
Lainnya seperti Listrik, Ruang/Gedung, Furniture, Interior Design, Jaringan
Komputer, dsbnya.
6.Pengguna
Perpustakaan seperti faktor kebutuhan, kenyamanan, pendidikan pengguna, kondisi
pengguna, dll
Hal-hal
tersebut diatas akan menentukan sejauh mana keberhasilan penerapan TI di
perpustakaan dapat berjalan dengan baik.
Penerapan
TI dalam bidang layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal
seperti uraian berikut :
-
Layanan Sirkulasi
Penerapan
TI dalam bidang layanan sirkulasi selain layanan peminjaman dan pengembalian,
statistik pengguna, dan administrasi keanggotaan, dapat juga dilakukan layanan
silang layan antar perpustakaan yang akan lebih mudah dilakukan apabila TI
sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini. Seperti sudah dimungkinkannya
adanya self-services dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan
RFID (Radio Frequency Identification). Termasuk mulai digunakannya SMS,
Faksimili dan Internet, didalam layanan sehari-hari.
-
Layanan Referensi & Hasil-hasil Penelitian
Penerapan
TI dalam layanan ini dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri
sumber-sumber referensi elektronik / digital dan bahan pustaka lainnya melalui
kamus elektronik, direktori elektronik, peta elektronik, hasil penelitian dalam
bentuk digital, dan lain-lain.
-
Layanan Periodikal
Pengguna
layanan periodikal (jurnal, majalah, terbitan berkala lainnya) akan sangat
terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan dalam akses ke dalam
jurnal-jurnal elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global
maupun yang tersedia dalam format CD. Bahkan silang layan dan layanan
penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan
teknologi informasi seperti internet.
-
Layanan Multimedia / Audio-Visual
Layanan
multimedia / audio-visual atau yang lebih dikenal sebagai layanan “non book
material” adalah layanan yang secara langsung bersentuhan dengan TI. Pada
layanan ini pengguna dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk Kaset
Video, Kaset Audio, MicroFilm, MicroFische, CD, Laser Disk, DVD, Home Movie,
Home Theatre, dll. Layanan ini juga memungkinkan adanya media interaktif yang
dapat dimanfaatkan pengguna untuk melakukan pembelajaran, dsbnya.
-
Layanan Internet & Computer Station
Internet
sebagai icon penting dalam TI, sudah tidak asing lagi dalam kehidupan semua orang.
Untuk itu perpustakaanpun harus dapat memberikan layanan melalui media ini.
Melalui media web perpustakaan memberikan informasi dan layanan kepada
penggunanya. Selain itu perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik
menggunakan computer station maupun WIFI / Access Point yang dapat digunakan
pengguna sebagai bagian dari layanan yang diberikan oleh perpustakaan.
Pustakawan dan perpustakaan juga bisa menggunakan fasiltas web-conferencing
untuk memberikan layanan secara online kepada pengguna perpustakaan.
Web-Conferencing ini dapat juga dimanfaatkan oleh bagian layanan informasi dan
referensi. OPAC atau Online Catalog merupakan bagian penting dalam sebuah
perpustakaan, untuk itu perpustakaan perlu menyediakan akses yang lebih luas
baik itu melalui jaringan lokal, intranet maupun internet.
-
Keamanan
Teknologi
informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan
keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security
gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan keamanan dalam
perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi
dimanapun.
-
Pengadaan
Bagian
Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain
dapat menggunakan TI dan internet untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi
perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkannya untuk
menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna.
Kerjasama pengadaan dengan berbagai pihak juga menjadi lebih mudah dilakukan
dengan adanya TI ini.
Implementasi
TI dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang seiring
makin kompleksnya keperluan automasi perpustakaan maupun penyediaan media /
bahan pustaka yang berbasis TI.
PENUTUP
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan dan teknologi (Iptek) yang didukung oleh teknologi yang
berbasis komputer dan komunikasi berdampak pada terjadinya ledakan informasi
(information explosion). Penguasaan Iptek terkait erat dengan penguasaan TI.
Kebutuhan terhadap informasi yang beragam, cepat dan tepat menuntut penggunaan
TI. Tidak terkecuali perpustakaan sebagai tempat pengumpulan, pengelolaan, dan
pelestarian segala macam bentuk informasi. Peran perpustakaan dan pustakawan
sebagai pekerja informasi telah bergeser dari peran konvensional berubah ke
peran yang lebih moderen. Peran yang menuntut mereka harus mampu bekerja secara
lebih profesional, yaitu mampu untuk seangkah lebih maju dari pengguna
perpustakaan (users).
Dari
uraian di atas dapat dilihat bahwa perkembangan informasi yang disertai dengan
layanan perpustakaan berbasis TI dapat diterapkan di semua bagian perpustakaan.
Hal tersebut tergantung pada bagaimana dan apa kebutuhan pengguna dan juga
perpustakaan. Proses pengembangan perpustakaan berbasis TI ini harus
memperhatikan kepentingan pengguna dan juga kepentingan institusi/organisasi
induk yang menaunginya. Termasuk didalamnya faktor kemampuan finansial dari
perpustakaan/lembaga induk untuk menerapkan TI dalam layanan perpustakaan ini.
Karena TI sebagai sesuatu yang cukup “mahal” merupakan kebutuhan yang tidak
bisa dihindarkan lagi.
Demikian
juga dengan pustakawan sebagai tenaga pengelola perpustakaan yang senantiasa
harus siap menghadapi tantangan perkembangan informasi dan teknologi yang
mengiringinya. Dengan sikap dan peran yang terbuka, kreatif, inovatif dan
menyukai tantangan, insyaallah terwujud hubungan yang manis antara pustakawan,
informasi dan teknologi informasi.
DAFTAR
PUSTAKA
1.Hermawan
S., Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan: Suatu
Pendekatan
Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006
2.Qalyubi,
Syihabuddin, dkk. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi.
Yogyakarta:
Jurusan IPI F.Adab UIN Suka, 2003
3.Rice,
James. Teaching Library Use: A Guide For Library Instruction. London:
Greenwood
Press, 1981.
4.Sulistyo,
Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama,
1993
5.Muin,
A. Indonesia di Era Dunia Maya. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000
6.Surachman,
Arif. Layanan Perpustakaan Berbasis Tekmologi Informasi.
http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=60#
diakses pada Selasa 14 Oktober 2008 pukul 10.15 WIB
7.http://eprints.rclis.org/archive/00008595/01/prof-profesi.pdf
diakses pada Rabu 15 Oktober 2008 pukul 11.35 WIB.
8.Wijoyo,
Widodo H. Pendidikan Pengguna di Perpustakaan Perguruan Tinggi:
Prediksi
Tentang Kendala Pelaksanaannya. http://widodo.staff.uns.ac.id/2008/12/15/
pendidikan-pengguna-di-perpustakaan-perguruan-tinggi-prediksi-tentang-kendala-pelaksanaannya/
diakses pada Rabu 31 Desember 2008 pukul 10.15 WIB
sumber web: